KESEHATAN PERLU DIPERJUANGKAN OLEH SEMUA ORANG

Kesehatan merupakan salah satu anugerah Allah SWT yang penting bagi kehidupan kita, oleh karena itu kesehatan harus dijaga dan masyarakat harus dilindungi dari berbagai ancaman penyakit dan masalah kesehatan lainnya. Kesehatan perlu ditingkatkan dan diperjuangkan oleh semua orang, karena masalah kesehatan bukan hanya menjadi persoalan jajaran kesehatan semata, namun juga tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat termasuk Pesantren.

Demikian sambutan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH saat membuka Festival Seni dan Budaya Islam dalam rangka peringatan Hari Lahir ke-XI Lembaga Pondok Pesantren Nurul Karomah, Pasuruan, Jawa Timur (17/7). Pada kesempatan tersebut, Menkes menyerahkan bantuan sosial sebesar Rp. 56.000.000,- untuk pembangunan Pos Kesehatan Pondok Pesantren (Poskestren) Nurul Karomah. Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jawa Timur, Bupati Pasuruan, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Karomah serta para kyai dan alim ulama se-Provinsi Jawa Timur.

Menkes menjelaskan, pondok pesantren mempunyai jumlah santri yang besar dan menjangkau tatanan terdekat dengan keluarga. Dengan potensi ini diharapkan dapat tergalang kemitraan dalam upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat, sehingga keluarga besar Pondok Pesantren dapat menjadi keluarga yang sadar gizi serta membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Menkes, salah satu strategi penguatan sumberdaya masyarakat adalah dengan meningkatkan pemberdayaan masyarakat, swasta dan masyarakat madani dalam pembangunan kesehatan melalui kerjasama nasional dan global. Salah satu wujud dari pemberdayaan masyarakat tersebut adalah terbentuknya Pos Kesehatan Pondok Pesantren (Poskestren).

Menkes berharap Poskestren dapat membudayakan PHBS dengan mengutamakan upaya peningkatan pola hidup sehat (promotif), pencegahan penyakit (preventif) tanpa mengabaikan pengobatan sederhana (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) sesuai dengan kompetensi dan sumberdaya yang ada dengan pembinaan teknis dari Puskesmas setempat.

“Kementerian Kesehatan telah memberikan dukungan stimulan berupa bantuan untuk pembangunan gedung Poskestren di beberapa daerah di Indonesia. Pada tahun 2009 terdapat 1015 Poskestren, 218 diantaranya berada di daerah Jawa Timur”, terang Menkes.

Mengutip Data Riskesdas 2007, Menkes menjelaskan, hasil dari Riskesdas 2007 antara lain menunjukkan bahwa prevalensi nasional Diabetes Melitus (berdasarkan hasil pengukuran gula darah pada penduduk umur >15 tahun bertempat tinggal di perkotaan) adalah 5,7%. Dimana Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu dari 13 provinsi yang mempunyai prevalensi Diabetes Melitus di atas prevalensi nasional. Sedangkan angka nasional perilaku merokok setiap hari pada penduduk umur >10 tahun adalah 23,7%, dimana Provinsi Jawa Timur juga merupakan bagian dari 17 provinsi yang mempunyai prevalensi diatas nasional.

Data lainnya tentang pemakaian air bersih, dengan rerata per orang per hari <20 liter di bawah persentase nasional 14,4% mencakup 20 provinsi termasuk Jawa Timur. Demikian pula halnya dengan fasilitas buang air besar, persentase nasional rumah tangga yang
menggunakan jamban sendiri adalah 60,0%. Sebanyak 20 provinsi mempunyai persentase rumah tangga yang menggunakan jamban sendiri di bawah persentase nasional termasuk Jawa Timur. Ternyata untuk HIV/AIDS, Jawa Timur juga merupakan Provinsi ke-2 tertinggi setelah Jawa Barat. Hal ini perlu mendapat perhatian kita semua dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-N) Tahun 2010-2014 dicantumkan bahwa pembangunan nasional yang akan dicapai adalah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui percepatan pencapaian MDGs dengan sasaran indikatornya antara lain: 1) Meningkatnya umur harapan hidup menjadi 72 tahun, 2) Menurunnya angka kematian bayi menjadi 24 per 1000 kelahiran hidup, 3) Menurunnya angka kematian ibu melahirkan menjadi 118 per 100.000 kelahiran hidup; dan 4) Menurunnya prevalensi gizi kurang (gizi kurang dan gizi buruk) pada anak balita menjadi <15%.

Dengan tumbuhnya Poskestren di seluruh tanah air, khususnya di Jawa Timur, Menkes berharap pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dapat berkembang lebih baik lagi. Sehingga setiap masalah dan kejadian penyakit menular yang ada di lingkungan pondok pesantren dapat cepat terdeteksi dan terlaporkan ke Puskesmas.

Pada kesempatan tersebut Menkes mengajak para santri untuk mengaktualisasikan berbagai kreatifitasnya dalam kegiatan yang bermanfaat, baik dalam upaya peningkatan pengetahuan serta keterampilan di bidang kesehatan dan ekonomi. Dengan adanya sinkronisasi ini, santri diharapkan akan mendukung tercapainya sinergisitas upaya pembangunan nasional yang pada gilirannya akan meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia. (Sumber: Depkes.go.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s