Arsip

Hasil Lab Darah Bekam

HIJAMAH (CUPPING THERAPY)

Berikut ini beberapa hasil laboratorium yang saya kutip dari buku karya ilmuwan Arab yang tersohor, Muhammad Amin Syaikhu, yang berjudul Ad-Dawa’u ‘l-’Ajib (Obat Ajaib). Dimana laporan ini dibuat oleh dokter-dokter spesialis terkenal dalam berbagai bidang kedokteran, yang kemudian dihimpun dan diteliti kembali secara medis oleh penulis dan seorang intelektual, ‘Abdul Qodir Yahya, yang terkenal dengan julukan Ad-Dironi.

Laporan Umum Penelitian tentang Pengobatan dengan Metode Bekam Tahun 2001 M, Dibawah konsultan dr. Muhammad Nabil Syarif (Mantan Dekan Fakultas Farmasi)

Penelitian dilakukan oleh Tim Laboratorium yang terdiri dari beberapa ahli :

• dr. Muhammad Nabil Syarif (Dekan Fakultas Farmasi)
• dr. Ahmad Samir Fauri (Ahli Patologi Klinik dan Laboratorium dari Prancis dan Ketua Ikatan Apoteker Syiria)
• dr. Fayiz Hakim (Ahli Patologi Anatomi dan Patologi Klinis, Amerika)
• dr. Muhammad Mahjub Geraudy (Ketua Jurusan Laboratorium Kedokteran Universitas Damaskus)
• dr. Muhammad Fuad Jabashini (Ahli Patologi Klinis dan Laboratorium Prancis)
• dr. Sa’d Yaqub (Ahli Farmasi Rumah Sakit dan Ketua Organisasi Pengiriman Obat D.D.S dari Prancis)

Juga tim kedokteran yang terdiri dari beberapa personal sebagai berikut :

• dr. Ahmad Tikriti (Dosen Ahli Bedah Jantung, Universitas Damaskus)
• dr. Abdul Malik Syalani (Dosen Penyakit Saraf, Universitas Damaskus)
• dr. Muhyidin Sa’udi (Dosen Pengobatan Kanker dan Tumor, Universitas Damaskus)
• dr. Abdul Ghoni ‘Arofah (Ketua Komite Anti TBC dan Penyakit Seksual Syiria)
• dr. Akrom Hajar (Dosen Penyakit THT serta Bedah Kepala dan Leher, Universitas Damaskus)
• dr. Marwan Zahro (Kepala Jurusan Bedah Saraf, Rumah Sakit Tasyrin)
• dr. Abdul Lathif Yasin (Dosen Tamu Fakultas Kebidanan London)
• dr. Haitsam Habal (Dosen Penyakit dan Bedah Mata Universitas Damaskus)
• dr. Ahmad Afif Faur (Kepala Bagian Tumor Rumah Sakit Ibnu Rusyd)
• dr. Amin Sulaiman (Dosen Hematologi Universitas Damaskus)
• dr. Abdulloh Makki Al-Katani (Konsultan Bedah Umum dari Jerman)
• dr. Tholal Habusy (Dosen Bedah Mata Universitas Al-Ba’ts)
• dr. Ahmad Ghiyats Jabqoji (Dosen Penyakit Saraf Universitas Istambul)

Penelitian ini dilakukan berdasarkan metodologi ilmiah yang disimpulkan oleh intelektual besar Arab, Muhammad Amin Syaikhu, dari hadits-hadist Nabi yang mulia, yang dilakukan dengan kriteria : (1). Pagi hari sebelum seseorang mengkonsumsi makanan apapun. (2).Di musim semi dan selama bulan april dan Mei (3). Pada paruh kedua bulan Qomariah (3). Usia di atas 20 tahun untuk pria dan setelah menopause untuk wanita.

Penelitian dilakukan terhadap 300 kasus, dengan hasil penelitian sebagai berikut :

• Kasus tekanan darah tinggi (hipertensi), tekanan darah turun hingga mencapai batas normal.

• Dalam kasus tekanan darah rendah (hipotensi), tekanan darah naik hingga mencapai batas normal

• Garis Irama jantung pada EKG menunjukkan perbaikan besar dan kembali kepada konsisi normal dalam irama yang teratur.

• Penurunan kecepatan aliran darah hinga batas normal

• Jumlah sel darah merah (eritrosit) menjadi normal

• Dalam kasus polisitemia (Kelainan dimana kadar Hb darah diatas normal, misal 17,5 g/100 ml) Kadar Hb (Hemoglobin) turun sampai pada batas normal (12-14 g/100 ml – penerj)

• Dalam kasus penurunan kadar hemoglobin (Anemia), Kadar Hemoglobin naik sampai normal yang ditandai dengan aktivitas tubuh dan perkembangan kemampuannya dalam memproduksi sel darah merah secara normal, selanjutnya meningkatkan aktivitas dan efektivitas transfer oksigen melaluinya.

• Jumlah sel darah putih (lekosit) meningkat dalam 60% kasus dan masih dalam batas normal.

• Jumlah sel darah putih pada penyakit paru-paru meningkat 71,4% pada beberapa kasus. Ini menunjukkan kesembuhan yang cepat bagi para pengidap rheumatism dan infeksi kronis setelah adanya pembekaman.

• Jumlah polimorfonuklear (PMN) meningkat dalam batas normal dalam 100% kasus penyakit paru-paru.
• Jumlah polimorfonuklear (PMN) menurun hingga batas normal.

• Jumlah enzim hati turun pada gangguan liver dalam 76,9% kasus dan hal itu masih dalam batas wajar.

• Jumlah seruloplasmin naik dalam 50,6% kasus.
Ket : Seruloplasmin adalah protein pengangkut tembaga. Salahsatu sebab disfungsi hati yang jarang adalah penyakit Wilson atau degenerasi hepatolentikular, yakni penyakit genetik yang ditandai oleh penimbunan tembaga di hati, mata dan organ lain.

• Jumlah seruloplasmin naik hingga batas normal dalam 100% kasus kekurangan dari batas normal.
• Jumlah seruloplasmin turun hingga batas normal dalam 10% kasus kelebihan dan dari batas normal.

• Kadar gula darah pada 83,75% kasus turun, sedangkan sisanya tetap pada batas wajar.
• Kadar gula darah turun pada para pengidap kencing manis dalam 92,5% kasus.

• Jumlah sel darah merah (eritrosit) maupun sel darah putih dalam darah turun dalam 66,66% kasus sedangkan Jumlah sel darah merah meupun sel darah putih naik dalam darah bekam pada semua kasus

• Jumlah sel darah merah dan sel darah putih turun pada 78,47% kasus

• Jumlah asam urat darah turun pada 66,66% kasus
• Jumlah asam urat darah turun pada 83,68% kasus
• Jumlah asam urat darah turun pada 50,7% kasus
• Jumalh asam urat darah turun pada 80% kasus

• Enzim hati SGPT turun pada 80% kasus, dimana SGPT menunjukkan aktivitas liver.
• Enzim SGOT turun pada 80% kasus, ini menunjukkan perbaikan yang terlihat pada irama jantung.
• Enzim hati turun pada 62,85% kasus

• Kadar enzim Amilase darah turun dalam 54,9% kasus

Ket : Amilase adalah enzim cerna yang memecahkan zat pati (Amilum) menjadi molekul-molekul karbohidrat yang lebih kecil sehingga dapat diserap. Sel yang mempunyai aktivitas amylase dan bermakna secara fisiologis dan diagnosis adalah kelenjar ludah dan pancreas. Amilase dalam serum meningkat pada radang pancreas (Pankreatitis Akut), Pseudokista dalam pancreas, pemberian morfin, karsinoma pancreas, gondongan (parotitis), dll.

• Kadar Albumin dalam darah turun dalam 100% kasus sampai pada batas normal.

• Kadar kolesterol dalam darah turun dalam 81,9% kasus.
• Kadar kolesterol dalam darah turun pada 75% kasus
• Kadar lemak Trigliserida turun dalam 75% kasus

• Ion-ion K dan Na kembali pada kadar normalnya dalam 90% kasus

Ket : Kalium (K) mempengaruhi beberapa organ tubuh utama, termasuk jantung.Tingkat kalium dapat meningkat akibat gagal ginjal, dan dapat tidak normal akibat muntah atau diare.

Natrium (Na) menunjukkan keseimbangan gula dan air. Natrium juga menunjukkan baik-buruknya kerja ginjal dan kelenjar adrenal kita. Umumnya, tingkat natrium yang tidak normal dalam darah menunjukkan volume darah yang terlalu rendah (akibat dehidrasi) atau terlalu tinggi. Keadaan ini juga bisa terjadi jika jantung tidak memompa darah sebagaimana mestinya.

• Ion-ion Ca kembali normal dalam 90% kasus
Ket : Kalsium (Ca), adalah bagian utama dari tulang dan gigi. Kalsium juga dibutuhkan agar saraf dan otot bekerja dengan baik, serta untuk reaksi kimia dalam sel. Tubuh kita mengatur jumlah kalsium dalam darah. Namun tingkat protein dalam darah dapat mempengaruhi hasil tes kalsium (lihat albumin di bawah).

• Seluruh sel darah merah dalam darah bekam dari daerah tengkuk (Titik Kaahil) berbentuk aneh : Hypochromasia, Burr, Target, Crenated, Spherocytes, Poicilocytes, Shistocytes, Teardropcelles, Acanthocytes.

Ket : Burr cells (Acanthocyte) ; eritrosit yang berduri-duri pada permukaannya, terdapat pada DIC, kelainan metabolisme lemak, sirosis hati alcohol, uremia, MAHA (microangiophatic hemolytic anemia).

Sel target ; Leptosit adalah eritrosit yang lebih tipis dari normal dan bagian tengahnya menebal, sehingga setelah dicat dengan pewarna akan tampak dari atas seperti papan target penahan (sel target); terdapat pada Hb C, thalassemia dan Anemia Defisiensi Besi.

Spherocytes ; eritrosit yang lebih bulat sehingga tampak tercat lebih kuat, terdapat pada sferositosis (Anemia sferositik), pada sindrom thalassemia. Sferosit sering berukuran lebih kecil dari normal (mikrosferosit), tedapat pada autoimmune hemolytic anemia (AIHA) tipe hangat (warm), hemolytic disease of the newborn (HDN) karena inkompatibilitas ABO.

• Bentuk eritrosit dalam darah bekam semuanya tidak normal

• Jumlah sel darah putih di darah bekam hanya 10% dari jumlah sel-sel darah putih yang ada di pembuluh darah, ini menunjukkan bahwa bekam tetap menjaga unsur-unsur kekebalan (imunitas) tubuh.

• Kenaikan kadar besi dalam darah pada batas normal pada 66 % kasus

Ket : Kadar besi dalam serum yang rendah terjadi pada kasus defisiensi akibat perdarahan menahun, melahirkan, sindrom nefrotik, infeksi menahun, metastasis kanker, dan intake makanan yang kurang. Sedangkan kadar besi meningkat karena hemokhromatosis, hemosiderosis, anemia hemolitik, thalasemia, intoksikasi timbal, hepatitis akut, dll.

• Faktor IV, yaitu kalsium yang berperan dalam pembekuan darah sangat tinggi, berkisar antara 411-1057, sementara di dalam pembuluh darah berkisar antara 250-400. Ini menunjukkan bahwa adanya sesuatu yang otomatis mencegah keluarnya besi dari celah-celah bekam dan mempertahankannya di dalam tubuh agar berperan dalam pembentukan sel-sel baru, dan hal ini dibarengi dengan meningkatnya aktivitas proses penyerapan besi dari usus.

Ket : Faktor IV atau ion kalsium, diperlukan untuk aktivasi factor IX, untuk membantu aktivasi factor X oleh kompleks IXa-VIII-fosfolifid, membantu perubahan protrombin menjadi thrombin oleh factor Xa dan untuk polimerisasi monomer fibrin. Untuk pembekuan, baik in vivo maupun in vitro, sedikitnya diperlukan kalsium sebanyak 2,5 mg/dl.

• CPK (Creatine Phosphokinase) turun dalam 66,66% kasus dan menjadi normal dalam 92,4% kasus

Ket : CPK atau kreatinekinase mengkatalisis pertukaran fosfat secara reversible antara kreatin dan ATP (Adenosinetrifosfat), ia berperan penting dalam menyimpan dan melepaskan energy dalam sel terutama dalam otot bergaris, otot jantung dan dalam jumlah kecil dalam otak. Kadar CPK dalam serum darah meningkat signifikan setelah terjadi kerusakan otot, seperti pada kasus Dsytrophia muscularis Duchenne, Polimiositis, Infark Miokard, dll.

• LDH (Laktat dehidrogenase) menjadi normal pada 93,75 % kasus.

Ket : Banyak jaringan mengandung LDH yang berfungsi mengkatalisis perubahan reversible laktat ke piruvat. Kadar LDH meningkat signifikan pada Anemia megaloblastik, Metastasis Karsinoma khususnya ke hati, Syok dan Hipoksia, Hepatitis, Infark Ginjal, Infark Miokard, dll.

Hasil-hasil penelitian diatas sungguh mencengangkan, mencerminkan banyak kondisi kesembuhan yang luar biasa. Semua itu merupakan bukti keagunan ilmu Nabi dan mukjizat besar yang dibawa oleh “guru pertama”, Rosulullah Muhammad Shallaahu ‘alaihi wasallam, yang kemudian disampaikan kepada kita oleh ilmuwan besar Arab, Muhammad Amin Syaikhu.

(Ditulis untuk http://kaahil.wordpress.com dengan sedikit tambahan keterangan dari dr.Abu Hana untuk memperjelas hasil laboratorium)

Sumber : Aiman bin ‘Abdul Fattah, KEAJAIBAN THIBBUN NABAWI, Bukti Ilmiah dan Rahasia Kesembuhan dalam Pengobatan Nabawi ( Judul Asli : Asy-Syifa’ min Wahyi Khotami ‘l-Anbiya), Penerbit Daaru ‘sh-Shohifah

Penelitian Bekam di Inggris III

Penelitian Pengaruh Terapi Bekam untuk Penanganan Nyeri Lutut Anterior (Bagian Depan) dan potensi peranannya dalam Promosi Kesehatan

Diterjemahkan oleh dr. Abu Hana http://kaahil.wordpress.com

Dari artikel :

knee-radiologyKaleem Ullah, Ahmed Younis & Mohamed Wali: An investigation into the effect of Cupping Therapy as a treatment for Anterior Knee Pain and its potential role in Health Promotion.: The Internet Journal of Alternative Medicine. 2007; Volume 4, Number 1.

Kaleem Ullah, MSc Physiotherapy, University of East Anglia UK

Ahmed Younis, Principal Lecturer St Georges University of London UK
Mohamed Wali, St Georges University of London UK

Hasil
Rerata Respon

Sebanyak 26 orang relawan menyetujui untuk ikut serta dalam penelitian. Empat relawan drop out sebelum dimulai penelitian. Dua puluh dua relawan mulai mengikuti penelitian; lima relawan yang tidak hadir dalam follow up seperti yang telah dijanjikan telah dikeluarkan dari penelitian dan dua relawan tidak dapat hadir pada dua follow up yang terakhir sehingga sisanya 15 relawan menyelesaikan penelitian secara komplit dan memberikan tingkat partisipasi 57,69% ( n = 15). Konstitusi dari dua puluh dua relawan yang mengikuti penelitian ini adalah sebagai berikut: laki-laki (n = 20; 90,90%), perempuan (n = 2; 9,10%). Semua relawan telah berumur atas 18 tahun.

Perbedaan antara pergerakan pasif dan aktif, Skor sakit dan Kenyamanan sebelum dan setelah Terapi Bekam

Tabel di bawah ini menunjukkan adanya peningkatan yang berarti baik aktif maupun pasif dari pergerakan, sebagaimana adanya pengurangan rasa sakit dan peningkatan kenyamanan. Std. Deviasi sebelum bekam untuk PROM (M ± SD) (142,64 ± 11,168), dan tiga minggu setelah bekam Std. Deviasi nya (151.67 ± 5.96). Begitu juga untuk AROM, Std. Deviasi sebelum bekam untuk AROM (134.14 ± 16.53) dan tiga minggu setelah bekam Std. Deviasi nya (147.24 ± 7.04). Hal yang sama juga dapat dilihat pada skor sakit dan kenyamanan. Std. Deviasi sebelum bekam untuk Sakit adalah (5.38 ± 2.8), dan tiga minggu setelah bekam Std. Deviasi nya (1.29 ± 2.02). Std. Deviasi sebelum bekam untuk kenyamanan adalah (7,21 ± 1,65), dan tiga minggu setelah bekam St. Deviasinya adalah (8,29 ± 1,20).

Tabel 1: Menampilkan perbedaaan Pasif dan aktif pergerakan, skor sakit dan kenyamanan

sebelum dan setelah Terapi Bekam.
Signifikansi perbedaan skor subjek sebelum dan setelah bekam

Seperti yang dapat kita lihat pada tabel di atas terdapat perbedaan nyata dalam setiap hasil skor pengukuran antara sebelum bekam dan tahap follow up. Pasangan sampel t-test dilakukan untuk memastikan perbedaan signifikansi statistik antara skor sakit, rerata pergerakan dan kenyamanan: segera setelah bekam, 1 minggu setelah bekam, 2 minggu setelah bekam dan 3 minggu setelah bekam.

Tabel 2: Menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam skor subjek sebelum dan setelah bekam

Tabel di atas menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam statistik Passive Ranger of Motion (PROM), Active Ranger of Motion(AROM), Skala Analog Sakit Visual dan Skala Analog Kenyamanan Visual sebelum dan setelah Terapi Bekam; p = 0,05 pada semua hasil pengukuran.
Diskusi
Efek dari Terapi Bekam pada rerata pergerakan dan tingkat pengurangan rasa sakit (Tabel 1 dan 2)

Tingkat rasa sakit yang dirasakan oleh subyek penelitian setelah bekam adalah jauh lebih rendah dibandingkan dengan sebelum dibekam. Hal ini dapat dilihat pada tabel 1 yang menunjukkan perbedaan antara rerata pergerakan pasif dan aktif (ROM), Skor Sakit dan Kenyamanan sebelum dan setelah Terapi Bekam.

Tampak bahwa skor sakit memiliki perubahan yang sama dengan range skor pergerakan. Rata-rata skor sakit menurun dari 5,14 ke 1,26 setelah minggu ketiga. Terjadi penurunan yang cukup besar pada tingkatan persepsi rasa sakit dan pada pasangan sampel t-test ditemukan adanya perbedaan nilai yang signifikan secara statistik segera setelah bekam, 1 minggu dan 2 minggu dan juga 3 minggu setelah bekam (p <0,05). Hasil tersebut menunjukkan bahwa intervensi terhadap nyeri lutut anterior (dengan bekam) dapat mengakibatkan penurunan tingkatan persepsi rasa sakit yang signifikan yang dirasakan oleh individu (Clark et al, 2000). Juga jelas terlihat bahwa tingkatan rasa sakit maksimum yang dirasakan oleh individu berkurang sebesar 50% (dari 10/10 menjadi 5/10) di akhir penelitian. Hasil tersebut sangatlah penting mengingat Terapi Bekam telah lama dianjurkan sebagai terapi yang efektif untuk mengobati nyeri (Cassileth, 2004 dan Hennawy 2004). Hasil yang diperoleh dari penelitian ini melengkapi saran yang dibuat oleh banyak praktisi bekam di seluruh dunia.

Tampak bahwa range pergerakan aktif maupun pasif meningkat cukup baik setelah bekam. The mean AROM pre cupping was 134.14degrees with the minimum ROM being 95degress. Rerata AROM sebelum bekam adalah 134.14 derajat dengan ROM minimum 95 derajat. Nilai rerata nya telah meningkat menjadi 143 derajat pada 1 minggu setelah bekam dan skor minimum telah meningkat menjadi 124 derajat. Pada minggu ketiga, nilai rerata telah meningkat menjadi 147.24 derajat dan skor minimum telah meningkat menjadi 128 derajat. Setelah pengujian dengan pasangan sampel t-test ditemukan adanya perbedaan skor yang signifikan secara statistik beberapa saat setelah bekam, serta 1, 2 dan 3 minggu setelah bekam (p <0,05). Begitu juga perbedaan yang signifikan secara statistik terlihat pada PROM. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa terapi bekam secara signifikan mampu meningkatkan range pergerakan sendi lutut baik aktif maupun pasif.

Adanya penurunan skor sakit tersebut dapat dikaitkan dengan alasan yang rasional yakni bekam dapat menyebabkan pengeluaran zat seperti morfin (Endorfin), Serotonin atau Kortisol yang pada akhirnya dapat membantu menghilangkan sakit dan memperbaiki status fisiologis seseorang(Schulte, 1996). Akupressure dan Akupunktur dalam faktanya telah digunakan dan terbukti berguna untuk meredakan nyeri dan penanganan addiksi/ketagihan(Schulte, 1996; Hinze, 1988; Cadwell, 1998). Pada tingkat biologis, seperti halnya Akupressure dan Akupunktur, Terapi Bekam bekerja dengan cara merangsang atau mengaktifkan (1) sistem kekebalan tubuh; (2) Pengeluaran Enkefalin; (3) Pelepasan neurotransmitter (4) Penyempitan dan pelebaran pembuluh darah serta (5) Gerbang rasa nyeri pada Sistim Syaraf Pusat (CNS) yang berfungsi mengartikan sensari rasa nyeri (NIH Consensus Development Panel, 1998; Schulte, 1996). Akhirnya, diyakini bahwa perangsangan pada titik Akupuntur dapat mengakibatkan Gerbang nyeri menjadi kewalahan dengan cara meningkatkan frekuensi impulse, sehingga akhirnya menutup gerbang dan dapat meredakan nyeri(Oumeish, 1998; Cadwell, 1998).

Pengaruh Terapi Bekam terhadap Kenyamanan (Tabel 1 dan 2)

Adalah tidak mungkin untuk mengukur pengaruh intervensi seperti Terapi Bekam secara kwantitas terhadap kehidupan seseorang dengan sebenar-benarnya. Pendekatan secara kualitatif untuk mengetahui pengaruh terapi dari perspektif pasien mungkin merupakan interpretasi yang lebih akurat daripada pengaruh umum. Namun demikian skala analog serupa dengan VAS Sakit yang digunakan untuk mengukur secara kwantitas pengaruh terapi bekam terhadap kenyamanan seseorang. Rerata skor kenyamanan VAS telah meningkat dari 7,21 ke 8,23; secara keseluruhan peningkatannya lebih dari 1. Peningkatan skor kenyamanan stabil sepanjang penelitian, hal tersebut mencerminkan keyakinan bahwa Terapi Bekam memiliki dampak positif pada kenyamanan. Temuan ini didukung oleh uji pasangan sampel t-test (p = = 0,05). Hennawy (2004) juga mendukung hal tersebut.

Oleh karena itu sangatlah wajar untuk menetapkan bahwa adanya manfaat biologis terapi bekam bersama dengan factor psikologis dalam memberikan kesehatan fisik dan kenyamanan psikologis.

Kesimpulan

Penelitian ini bukan ditujukan untuk suatu bagian penyelidikan semata tapi untuk melaksanakan perubahan dalam praktek kesehatan. Lebih dari itu tujuan penelitian ini adalah untuk menyelidiki dan juga meningkatkan kesadaran mengenai penanganan dengan terapi bekam dan mendapatkan hal-hal penting yang berkaitan dengan hal tersebut. Keampuhan dari penggunaan bekam untuk nyeri lutut anterior, Range Gerakan dan kenyamanan telah mengungkapkan hasil penelitian yang memiliki perbedaan signifikan secara statistik dalam mendukung Terapi Bekam. Diharapkan juga bahwa sebagai sebuah tindakan, Terapi Bekam perlu diatur dan dilakukan pencatatan oleh para praktisi yang mengembangkannya. Penelitian jangka panjang lanjutan yang berkaitan dengan efek Terapi Bekam harus dilakukan untuk masalah musculoskeletal (otot dan tulang) yang lain.

Lampiran

Lampiran 1

Lampiran 2: Paket Penilaian

(SELESAI. Sumber: http://kaahil.wordpress.com)

Referensi

Al Dairani et al,. [n/a] 2001 and 2003 avialable at http://www.thingsnotsaid.org – accessed June 2005

Al-Jawzeyah I. Q. (10 th century) Medicine of the Prophet. Darussalam International Publications.

Al-Rawi and Nessan AH (1997) Joint hypermobility in patients with chondromalacia patellae.;Br J Rheumatol 1997 Dec;36(12):1324-7

Al-Rub A (1999) Healing with the Medicine of the Prophet. Darussalam International Publishers and Distributors.

As-Sawi A, J, M (1992) Proposed Medical research Projects derived from the Qur’an and Sunnah. Hay’at al-I’jaz al-Ilmi. Makkah Al-mukarramah, Saudi Arabia

Ballegaard, S., Norrelund, S. & Smith, D. F., 1996. Cost-benefit of combined use of acupuncture, Shiatsu and lifestyle adjustment for treatment of patients with severe angina pectoris. Acupuncture & Electro-Therapeutics Research. 21(3-4): 187-197

Cadwell, V., 1998. A primer on acupuncture. Journal Emergency Nursing. 24(6): 514-517

Chen A., 1993. Effective acupuncture therapy for stroke and cerebrovascular disease, part I. In: Gosman-Hedstrom, G.; Glaesson, L.; Klingenstierna, U.; Carlsson, J.; Olausson, B.; Frizell, M.; Fagerberg, B. & Blomstrand, C., 1998. Effects of acupuncture treatment on daily life activities and quality of life: a controlled, prospective, and randomized study of acute stroke patients. Stroke: A Journal of Cerebral Circulation. 29(10): 2100-2108

Chirali, I. Z (1999) Traditional Chinese Medicine Cupping Therapy, 6th Edition. Churchill Livingstone.

Clark D, I (2000), N Downing, J Mitchell, L Coulson, E P Syzpryt, M Doherty. Physiotherapy for anterior knee pain: a randomised controlled trial Ann Rheum Dis 2000;59:700-704

Commission for Racial Equality (1999) Ethnic minorities in Britain (WWW). Available at http://www.cre.gov.uk/pdfs/em_fs.pdf (accessed 17 January 2003)

Crespo, C.J., Smit, E., Andersen, R.E., Carter-Pokras, O. and Ainsworth, B.E. (2000) Race/ethnicity, social class and their relation to physical activity during leisure time: results from the Third National Health and Nutrition Examination Survey. American Journal of Preventive Medicine 18(1), 46-53

Curtis N, J (2005), Management of Urinary tract Infections: historical perspective and current strategies: Part 1-before antibiotics. Journal of Urology. 173(1):21-26, January 2005.

Davis, C. M., 1997. Complementary Therapies in Rehabilitation. Holistic Approaches for Prevention and Wellness. SLACK Inc., Thorofare, New Jersey, USA

Department of Health (2001) National Service Framework for Older People. London, The Stationary Office

Duckworth, M. (1999) Outcome selection and typology. Physiotherapy 85(1), 21-27

Ernst, E. & White, A. R., 2000. Acupuncture may be associated with serious adverse events. British Medical Journal. 320(7233): 513

Fairbank 1984) cited by D.P. Johnson 2005 Anatomy, Diagnosis Mechcanics and Management of Anterior Knee Pain (available from http://www.orthopaedics.co.uk/boc/v2rinfo10.htm – accessed July 2005

Falkenstrom, M. K., 1998. Pain management of the patient with cancer in the homecare setting. Journal of Intravenous Nursing. 21(6): 327-334

Felhendler, D. & Lisander, B., 1996. Pressure on acupoints decrease postoperative pain. Clinical Journal of Pain. 12(4): 326-329

Fessele, K. S., 1996. Managing the multiple causes of nausea and vomiting in the patient with cancer. Oncology Nursing Forum. 23(9): 1409-1415

Freeman, J.A. (2002) Assessment, outcome measurement and goal setting in physiotherapy practice. In Edwards, S. (ed) Neurological Physiotherapy (2 nd edition). Churchill Livingstone, London

Hargreaves, S. (2000) Burden of ageing population may be greater than anticipated. The Lancet 355, 2146

Hennawy M (2004). Cupping therapy and Infertility. Available at: http://www.obgyn.net/english/pubs/features/presentations/hennawy15/280,1 Cupping Therapy and Infertility. Accessed December 2004.

Hinze, M. L. M., 1988. The effects of therapeutic touch and acupressure on experimentally induced pain [thesis (Ph.D.)--University of Texas at Austin] Ann Arbor, Mich., U.M.I., America

Jadad, A. R. & Browman, G. P., 1995. The WHO analgesic ladder for cancer pain management: stepping up the quality of its evaluation. The Journal of the American Medical Association. 274(23): 1870-1873.

Jin, Y.; Wu, L. & Xia, Y., 1996. Clinical study on painless labor under drugs combined with acupuncture analgesia. Chen Tzu Yen Chiu Acupuncture Research. 21(3): 9-17

King, C., Castro, C., Wilcox, S., Eyler, A.A., Sallis, J.F. and Brownson, R.C. (2000) Personal and environmental factors associated with physical inactivity among different racial-ethnic groups of U.S middle-aged and older-adult women. Health Psychology 19(4), 354-364

Lee, T. A (2001) Chinese Way Of Easing Pain – Acupressure. Pain, Symptom Control and Palliative Care 1:1

Levangie, P. K and Norkin, C.C (2001) Joint Structure and Function. A Comprehensive Analysis, 3 rd Edition

Longsdale, I. (2005) Manager of The Spa at County Hotel, London. Discussion re. ‘the use of cupping therapy in Eastern Europe’

Michalsen A, Klotz S, Ludtke R, Moebus S, Spahn G, Dobos GJ (2003) . Effectiveness of leech therapy in osteoarthritis of the knee: a randomized, controlled trial. Ann Intern Med. 2003 Nov 4;139(9):724-30

Munro, J., Brazier, J., Davey, R. and Nicholl, J. (1997) Physical activity for the over-65’s – could it be a cost-effective exercise for the NHS? Journal of Public Health Medicine 19(4), 397-402

NIH Consensus Development Panel on Acupuncture, 1998. Acupuncture (NIH consensus conference). Journal of the American Medical Assoication. 280(17): 1518-1542

Oumeish, O. Y., 1998. The philosophical, cultural, and historical aspects of complementary, alternative, unconventional, and integrative medicine in the old world. Archives of Dermatology. 134(11): 1373-1386

Pettinger, N. (1998) Age Old Myths. Health Service Journal 108, 24-25

Schulte, E., 1996. Complementary therapies: Acupuncture: Where East meets West. Research Nursing. 59(10): 55-57

Unschuld P, Medicine in China: A History of Ideas, 1985 University of California Press, Berkeley, CA

Vickers, A. & Zollman, C., 1999. ABC of complementary medicine: Acupuncture (Clinical Review). British Medical Journal. 319(7215): 973-976

Penelitian Bekam di Inggris II

Penelitian Pengaruh Terapi Bekam untuk Penanganan Nyeri Lutut Anterior (Bagian Depan) dan potensi peranannya dalam Promosi Kesehatan

Diterjemahkan oleh dr. Abu Hana http://kaahil.wordpress.com

Dari artikel :
Kaleem Ullah, Ahmed Younis & Mohamed Wali: An investigation into the effect of Cupping Therapy as a treatment for Anterior Knee Pain and its potential role in Health Promotion.: The Internet Journal of Alternative Medicine. 2007; Volume 4, Number 1.

Kaleem Ullah, MSc Physiotherapy, University of East Anglia UK
Ahmed Younis, Principal Lecturer St Georges University of London UK
Mohamed Wali, St Georges University of London UK

Nyeri Lutut Anterior dan Terapi Bekam
Sebagaimana diketahui bahwa cedera lutut merupakan cedera serius yang paling sering terjadi selama kegiatan olahraga (Johnson, 2005). Potensi Terapi Bekam untuk penanganan nyeri lutut anterior dan dihubungkan dengan tingkat morbiditas terkait haruslah dilakukan penelitian, dikarenakan seperti yang disebutkan sebelumnya memiliki implikasi dalam cost dan kesehatan yang memang menjanjikan. Diharapkan bahwa Terapi Bekam disarankan secara medis dan fisioterapi untuk penanganan Nyeri lutut anterior akan bekerja dengan baik sebagaimana penelitian yang menunjukkan bahwa penanganan konvensional untuk Nyeri Lutut Anterior (AKP) efektif dalam mengurangi tingkat keparahan AKP dan juga memiliki manfaat pada kenyamanan individu(Clark dkk., 2000).

Terapi Bekam dan etnis penduduk minoritas
Populasi penduduk Inggris sangatlah beragam; jumlah orang yang diklasifikasikan sebagai etnis minoritas mengalami peningkatan, (Commission for Racial Equality 1999). Hal ini juga menunjukan bahwa penggunaan layanan kesehatan oleh penduduk etnis tidak proporsional dengan yang untuk penduduk Kaukasia di Inggris (Crespo dkk., 2000) dan juga inaktivitas fisik lebih banyak di kalangan etnis minoritas dibandingkan Kaukasia, (King et al 2000). Oleh karena itu tindakan seperti Terapi Bekam dapat membantu mengisi gap itu sama halnya Akupunktur dengan masyarakat Timur Jauh.

Kontra-indikasi dan Kehati-hatian Terapi
CTerapi Bekam tidak memiliki efek samping yang berarti, hanya berupa ketidaknyamanan minimal akibat sedikit intervensi pada kulit pasien. Dalam kasus di mana pasien memiliki ambang batas nyeri yang rendah, dapat diberikan pembiusan lokal. Begitu juga efek samping ringan lainnya yang mungkin terjadi adalah rasa sedikit berkunang-kunang setelah Terapi Bekam, sekali lagi ini adalah mirip seperti setelah pengambilan darah oleh dokter, pada saat bekam darah terdorong mengalir ke daerah yang dibekam (hiperemis ), beberapa kadang merasa hangat dan lebih panas sebagai akibat dari pelebaran pembuluh darah/vasodilatasi dan sedikit berkeringat mungkin terjadi. Sekali lagi ini dapat dijelaskan secara ilmiah dan rasional, tidak  ada alasan yang memicu kekhawatiran.

Wanita hamil atau sedang menstruasi, pasien kanker (metastasis) dan pasien dengan patah tulang atau spasme otot dikontraindikasikan untuk penelitian ini. Demikian juga, Terapi Bekam tidak dapat diterapkan di daerah DVT, di mana terdapat ulkus, arteri atau tempat di mana denyutan pembuluh darah dapat dirasakan (Chirali, 1999).

Tujuan penelitian
* Mengevaluasi pengaruh Terapi Bekam pada Nyeri Lutut Anterior (AKP), Rentang pergerakannya dan dampak terhadap kualitas hidup dan kenyamanan.

Pengujian hipotesa
* Terapi Bekam tidak berpengaruh pada persepsi nyeri lutut, Rentang pergerakan dan kenyamanan.

Metodologi dan desain penelitian
Metode penelitian ini adalah suatu survey eksperimental dengan menggunakan metodologi percobaan klinis dan kuesioner.  Follow up dilakukan selama 3 minggu untuk mengetahui pengaruh jangka panjang efek terapi dengan menggunakan penilaian obyektif maupun subyektif.  Pengukuran Subyek penelitian diambil sebelum dan sesudah tes.

Penelitian ini dirancang setelah dilakukan tinjauan pustaka yang intensif, diskusi dengan praktisi bekam, pengamatan teknik aplikasi di lapangan, dan diskusi serta komunikasi dengan para praktisi dan pusat-pusat yang terlibat dalam praktek bekam (terutama di Timur Tengah). Setelah itu, prosedur untuk aplikasi bekam pada penelitian ini ditentukan(lihat prosedur aplikasi bekam).

Lembar penilaian (lihat Lampiran 1) dirancang untuk memasukkan data informasi pasien, riwayat medis terdahulu dan sekarang, pengukuran tanda-tanda vital (detak nadi, tekanan darah dan saturasi O2 hanya untuk tujuan monitoring). Semua pengukuran dan pertanyaan dilakukan oleh peneliti yang sama sebelum dan setelah bekam untuk meningkatkan validitas dan kehandalan (reliabilitas).

Outcome pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Analog Sakit Visual (Pain VAS), Skala Analog Kenyamanan Visual (Well Being VAS) dan Rerata Pergerakan sendi,  baik Rerata Pergerakan Aktif (AROM) dan Rerata Pergerakan Pasif (PROM). Variabel independen dalam penelitian ini adalah Terapi Bekam, dimana semua peserta penelitian mendapatkannya. Variabel Independen yang diukur adalah Skala Sakit dan Kenyamanan VAS serta Rerata Pergerakan lutut baik yang aktif maupun pasif.  Peserta juga ditanya mengenai pendapat mereka tentang bekam, kesehatan umum serta kualitas hidup melalui kuesioner. Kuesioner dirancang secara hati-hati dengan mengintegrasikan serangkaian pendekatan kualitatif generik seperti kuesioner Kualitas Hidup World Health Organization (WHOQOL-100), EuroQol-5D (EQ-5D) dan the 15D Health Related Quality of Life (15D);  dengan tujuan untuk memperoleh kuesioner yang khusus untuk Terapi Bekam. Sebelum dilakukan penelitian utama, kuesioner telah berhasil diuji dalam dua pilot studi.

Populasi dan sampel penelitian
Target populasi untuk penelitian ini adalah masyarakat umum dominan di wilayah London dan yang saat ini tidak memiliki afiliasi terhadap model bentuk tehnik kesehatan apapun. Subyek penelitian direkrut dengan memanfaatkan berbagai teknik periklanan termasuk iklan di sebuah stasiun radio nasional (Spektrum Radio AM 558), sistem email universitas, dan acara TV dokumenter kesehatan di saluran satelit ANN(Arab News Network).

Kriteria inklusif :
Subyek dengan masalah lutut dan berusia antara 20-80 tahun. Subyek yang sebelumnya tidak pernah dibekam di lutut atau di bagian tubuh lainnya selama enam bulan sebelum penelitian ini.

Kriteria eksklusif (pengecualian):
Bayi
Subyek yang menderita masalah jantung serius atau penyakit yang menyebabkan individu rentan mengalami pendarahan.
Ibu hamil
Pasien Kanker
Subyek dengan fraktur/patah tulang atau spasme otot di daerah lutut.

Instrumentasi
Menggunakan peralatan dasar untuk terapi bekam termasuk sedotan pompa tangan, kop plastik ukuran yang sama dan peralatan antiseptik.

Etika pertimbangan penelitian
Peserta penelitian diberi lembar informasi yang menjelaskan secara detail prosedur penelitian, pemahaman subjek terhadap penelitian dipertimbangkan dan formulir izin/kesediaan untuk ikut penelitian diberikan sebelum penelitian dimulai. Subyek diizinkan kapanpun juga untuk menarik diri dari penelitian, atau ingin melanjutkan penelitian dan mendapatkan penjelasan/keterangan lanjut juga diperbolehkan untuk melakukannya. Persetujuan Etika diminta dari Komite Penelitian Kings College.

Prosedur penelitian
Prosedur yang digunakan adalah sebagai berikut:
Sebelum aplikasi terapi dimulai, kami memastikan bahwa:
Subyek telah memenuhi prasyarat bekam (criteria inklusif).
Kontra-indikasi telah dieliminasi
Peralatan tersebut telah steril
Subyek diingatkan dan dipahamkan kembali mengenai efek samping ringan yang akan muncul
Tekanan darah, detak nadi dan saturasi O2 diukur dalam posisi duduk, kemudian subyek ditanya untuk mengidentifikasi tingkat rasa nyeri mereka menggunakan skala analog visual dalam bahasa Inggris (dan juga disediakan dalam terjemahan bahasa Arab, lihat Lampiran 1) . Tanda-tanda vital yang diambil digunakan hanya untuk memantau kondisi subjek secara umum.
Pengamatan lutut dilakukan untuk mengetahui setiap abnormalitas, kemudian rerata pergerakan lutut diukur pada posisi terlentang oleh peneliti yang sama.
Subyek diwawancarai oleh peneliti yang sama.
Bekam dilakukan di lutut (sebelah lateral dari tendon otot quadriceps) menggunakan pisau bedah agar steril dan dapat mengontrol kedalaman dan lebar sayatan. Gelas kop digunakan pada daerah perlakuan dan darah dengan hati-hati dibuang sebanyak tiga kali. Daerah yang telah dibekam kemudian dikelola sesuai dengan prosedur dasar manajemen luka (yaitu antiseptik dan perban).
Semua pengukuran (tekanan darah, detak nadi dan saturasi O2, termasuk rerata pergerakan lutut serta skala sakit dan kenyamanan) diulang oleh peneliti yang sama segera setelah bekam dan kemudian satu, dua dan tiga minggu setelah bekam.

Analisis data
Data tersebut dianalisis menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk minimum, maksimum, rerata, dan Standar Deviasi (SD). Uji pasangan sampel t-test digunakan untuk menentukan perbedaan diantara subyek penelitian sebelum dan setelah bekam.

Tingkat signifikansi penelitian ini ditetapkan pada 5%. Semua analisis data menggunakan Statistical Package for Social Sciences (SPSS) v.12 untuk Windows. (Bersambung ke bagian 3)

Penelitian Bekam di Inggris I

Penelitian Pengaruh Terapi Bekam untuk Penanganan Nyeri Lutut Anterior (Bagian Depan) dan potensi peranannya dalam Promosi Kesehatan
Diterjemahkan oleh dr. Abu Hana http://kaahil.wordpress.com
Dari artikel : Kaleem Ullah, Ahmed Younis & Mohamed Wali: An investigation into the effect of Cupping Therapy as a treatment for Anterior Knee Pain and its potential role in Health Promotion.: The Internet Journal of Alternative Medicine. 2007; Volume 4, Number 1.

Kaleem Ullah, MSc Physiotherapy, University of East Anglia UK Ahmed Younis, Principal Lecturer St Georges University of London UK Mohamed Wali, St Georges University of London UK

Abstrak
Objektif: Untuk mengetahui pengaruh Terapi Bekam dalam tingkatan patofisiologis pada penanganan Nyeri lutut anterior (bagian depan) dan dampaknya terhadap kualitas hidup serta kenyamanan.
Metode: Survei Eksperimen menggunakan percobaan klinis dan kuesioner. Follow up dilakukan selama 3 minggu untuk mengetahui pengaruh jangka panjang efek terapi dengan menggunakan penilaian obyektif maupun subyektif. Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengetahui berapa banyak variabel independen menyebabkan peserta penelitian mengalami perubahan (Dane, 1990).

Hasil: Terdapat perbedaan statistik yang signifikan dalam tingkat rasa sakit, kenyamanan dan rerata pergerakan  pada pasien dengan nyeri lutut anterior antara sebelum dan setelah bekam (P <0,05).
Kesimpulan: Telah dilakukan penelitian mengenai keampuhan/Efikasi Terapi bekam untuk penanganan nyeri lutut anterior serta kenyamanan dan pergerakannya, hasil penelitian menunjukkan adanya perbaikan pada peserta penelitian sebagai akibat dari Terapi Bekam. Dianjurkan untuk dilakukan studi lebih lanjut dengan menggunakan sample penelitian yang lebih besar dan waktu yang lebih lama.

Pendahuluan
Cupping (bekam) merupakan metode pengobatan klasik yang telah digunakan dalam perawatan dan pengobatan berbagai masalah kesehatan diantaranya : Penyakit darah seperti hemofili dan hipertensi, Penyakit reumatik mulai dari artritis, sciatica/nyeri panggul, sakit punggung, migren, gelisah/anxietas dan masalah fisik umum maupun mental. Tujuan bekam adalah untuk membuang darah dari dalam tubuh yang diyakini dapat merusak tubuh dan pada gilirannya berpotensi merugikan mulai dari gejala biasa sampai yang mengarah pada menurunnya derajat kesehatan.

Sejarah dan asal mula Terapi Bekam
Secara tradisional, Terapi bekam telah dipraktekkan oleh banyak budaya dalam satu bentuk atau lainnya. Di Inggris praktek Terapi bekam juga telah tercatat dalam kurun waktu yang lama dengan salah satu jurnal kesehatan ‘ The Lancet ‘ yang diberi nama setelah adanya praktek ini. Lanset merupakan salah satu peralatan bedah tradisional yang digunakan untuk membuang kelebihan darah yakni venaseksi dan digunakan untuk membedah Abses/bisul. Kata dalam bahasa Arab untuk Terapi Bekam adalah Al-Hijamah yang berarti untuk mengurangi ukuran yakni untuk mengembalikan tubuh pada kondisi alamiah.

Praktek  Al-Hijamah telah menjadi bagian dari budaya Timur Tengah selama ribuan tahun sebagaimana telah ada pada catatan di zaman Hipokrates (400 SM). Di belahan barat, yang pertama melakukan Terapi Bekam adalah orang-orang Mesir kuno, dan yang tertua terekam dalam Textbook berjudul “ Ebers Papyrus” yang ditulis sekitar tahun 1550 SM di negeri Mesir menyebutkan masalah bekam (Curtis, 2005). Terapi bekam secara umum dapat dibagi menjadi dua kategori: Bekam kering (Dry Cupping) dan Bekam basah(Wet Cupping).

Terapi bekam kering cenderung lebih banyak dipraktekkan di wilayah Timur Jauh, sedangkan Bekam basah menjadi favorit di wilayahTimur Tengah dan Eropa Timur. Untuk tujuan penelitian ini dilakukan penyelidikan Terapi bekam basah yang kemudian disebut sebagai Terapi Bekam.

Penggunaan Terkini Terapi Bekam
Pengobatan Komplementer dan Alternatif (CAM= Complementary and Alternative Medicine) akhir-akhir ini menjadi lebih populer di masyarakat dan mendapatkan kredibilitas dalam dunia Biomedis kesehatan (Hill, 2003). Survei menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari penduduk Inggris (Ernst, 1996) dan sedikit lebih tinggi di Amerika Serikat (Wootton dan Sparber, 2001) menggunakan CAM. Selain itu, mainstream dunia kesehatan yang meminta bukti lebih lanjut untuk CAM semakin tertarik pada beberapa bentuk CAM (Hoffman, 2001).

Khasiat Medis dari  Terapi Bekam
Menurut Hennawy (2004), Terapi Bekam diindikasikan untuk penanganan gangguan darah, mengobati nyeri, inflamasi/peradangan, relaksasi fisik dan mental, varises pada pembuluh darah vena dan masase jaringan dalam serta memberikan hingga 50% peningkatan pada tingkat kesuburan.

Prinsip-prinsip Akupunktur dan Akupressure sangatlah mirip dengan Terapi Bekam basah, hanya saja pada bekam basah melibatkan pengeluaran darah sedangkan pada Akupunktur dan Akupressure menggunakan isapan dan stimulasi pada titik-titik tertentu untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Pengeluaran darah (Blood letting) itu sebenarnya merupakan salahsatu di antara teknik Akupunktur tertua (Dharmananda, 2004). Diperkirakan bahwa Akupunktur awalnya merupakan metode penusukan bisul dari kulit, kemudian dikembangkan untuk mengeluarkan “darah kotor” yang umumnya disertai cedera atau demam dan pada akhirnya dapat mengeluarkan roh jahat dan atmosfir Qi yang jelek (terutama “angin”) keluar dari dalam tubuh(Unschuld, 1985).

Fokus perhatian kembali pada penelitian tradisi pengobatan Cina dimana penemuan Akupressure dan Akupunktur dalam meredakan nyeri telah membuktikan bahwa dengan metode tersebut dapat melepaskan zat seperti morfin (Endorfin), Serotonin atau Kortisol yang pada akhirnya dapat meredakan nyeri dan membantu memperbaiki status fisiologis individu (Schulte, 1996).

Akupressure dan Akupunktur dalam faktanya telah digunakan dan terbukti berguna untuk meredakan nyeri dan penanganan addiksi/ketagihan(Schulte, 1996; Hinze, 1988; Cadwell, 1998). Pada tingkat biologis; Akupressure dan Akupunktur bekerja dengan cara merangsang atau mengaktifkan (1) sistem kekebalan tubuh; (2) Pengeluaran Enkefalin; (3) Pelepasan neurotransmitter (4) Penyempitan dan pelebaran pembuluh darah serta (5) Gerbang rasa nyeri pada Sistim Syaraf Pusat (CNS) yang berfungsi mengartikan sensari rasa nyeri (NIH Consensus Development Panel, 1998; Schulte, 1996).

Akhirnya, diyakini bahwa perangsangan pada titik Akupuntur dapat mengakibatkan Gerbang nyeri  menjadi kewalahan dengan cara meningkatkan frekuensi impulse, sehingga akhirnya menutup gerbang dan dapat meredakan nyeri(Oumeish, 1998; Cadwell, 1998).

Menurut Institut Kesehatan Nasional (NIH) Consensus Development Panel (1997), Akupunktur juga efektif menangani mual dan muntah akibat kemoterapi, mual pada kehamilan, sakit gigi, adjunct therapy, kasus addiksi, rehabilitasi stroke, sakit kepala, kram haid, tennis elbow, fibromyalgia, nyeri punggung bawah(LBP), carpal tunnel syndrome, asma dan sebagainya (Lee, 2001). Mengingat relatif rendahnya biaya CAM pada umumnya sehingga integrasi antara terapi dalam mainstream kesehatan publik tidak diragukan lagi akan dapat meringankan beban keuangan dan waktu pada sistem sistem kesehatan kita ini.

Sebagaimana bekam juga ditujukan sebagai terapi yang efektif untuk penanganan nyeri dan memiliki kesamaan dengan teori Akupunktur dan Akupressure, sehingga sangatlah mungkin Terapi Bekam memiliki aksi mekanisme biologis yang sama pula seperti disebutkan diatas dalam hal meredakan nyeri. (Bersambung ke bagian dua)

Gemuk Tak Selaku Diabetes, Tapi….

Biasanya banyak orang yang tidak menyadari memiliki gen diabetes, namun memang tidak semua yang memiliki gen diabetes akan merasakan gejala penyakit itu, tergantung jenis penyakit dan pola hidupnya.

Demikiang ungkap pakar obstetri dan ginekologi (obgin) Rumah Sakit Bersalin (RSB) Kusuma Semarang, dr. Retno Kusumaningrum

Diabetes bisa juga muncul bukan karena faktor keturunan, namun murni disebabkan pola hidup seseorang yang salah dan otomatis yang bersangkutan jadi memiliki gen diabetes.

“Karena itu, yang terpenting sebenarnya menjaga pola hidup, termasuk pola makan yang diatur. Hindari makanan yang manis-manis. Waspadai juga anak yang mengalami obesitas atau kegemukan,” katanya.

Ia mengingatkan, orang tua biasanya senang melihat tubuh anaknya yang gendut karena dianggap sehat dan lucu, namun jangan dulu senang karena dimungkinkan anaknya menderita penyakit, termasuk diabetes.

“Memang tidak semua penderita diabetes memiliki tubuh gemuk. Untuk bayi atau anak yang tubuhnya terlalu gendut memang perlu diwaspadai terkena diabetes,” katanya.

Untuk mencegah atau setidaknya memperlambat kemunculan gejala penyakit diabetes, kata dia, bisa dilakukan ibu dengan memberikan air susu ibu (ASI) secara eksklusif dan mengatur pola makan bayinya.

“Jangan diberi susu formula karena kandungan zat gulanya terlalu berlebihan, bisa memicu diabetes. Beri ASI dan makanan dengan pola seimbang, misalnya bayam, wortel, atau jagung manis yang dihaluskan,” kata Retno. (Sehatnews)

8 DARI 1000 ORANG DI INDONESIA TERKENA STROKE

Stroke merupakan masalah kesehatan dan perlu mendapat perhatian khusus. Stroke  mengakibatkan penderitaan pada  penderitanya, beban sosial ekonomi bagi keluarga-penderita, masyarakat, dan negara. Stroke dapat menyerang siapa saja dan kapan saja, tanpa memandang usia. Di Indonesia, setiap 1000 orang, 8 orang diantaranya terkena stroke. Stroke merupakan penyebab utama kematian pada semua umur, dengan proporsi 15,4%. Setiap 7 orang yang meninggal di Indonesia, 1 diantaranya karena stroke.

Demikian sambutan Menkes pada acara Peringatan Hari Stroke Sedunia, di depan Bundaran Hotel Indonesia (29/10). Sedikitnya 200 orang dari berbagai insiusi turut dalam acara ini, termasuk penderita stroke. Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Turut hadir dalam acara tersebut, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Dr. Santi Anisa Hemi Faisal, Ketua IDI, Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indinesia (Perdossi) Jaya, dan Ketua Umum yayasan Stroke Indonesia (Yastrok). “Stroke dapat dicegah, dapat diobati dan penderita stroke dapat  memperoleh kembali kualitas hidup mereka dengan perawatan jangka panjang yang tepat dan dukungan dari keluarga dan lingkungan,” kata Menkes.

Menkes menghimbau, untuk memperkuat upaya pengendalian dan mengurangi beban akibat stroke, masyarakat perlu mengetahui faktor risiko pribadi masing – masing seperti tekanan darah tinggi, diabetes dan kolesterol darah yang tinggi. Untuk itu, masyarakat perlu melakukan aktifitas fisik secara aktif dan olahraga secara teratur, menghindari obesitas dengan menjaga pola makan sehat dan seimbang, tidak mengonsumsi alkohol, menghindari asap rokok. Jika merokok segera mencari bantuan untuk berhenti merokok, mengenali tanda-tanda peringatan dari stroke serta mengetahui bagaimana tindakan yang harus dilakukan.

Direncanakan, tahun depan (2012) Kemkes akan melakukan kampanye besar pengendalian penyakit tidak menular, di antaranya pencegahan stroke. Salah satu bentuk kampanya adalah dengan membuat MOU dengan berbagai perusahaan taksi di  Jakarta dan kota besar. Dengan MoU ini, akan dilakukan pelatihan bagi pengendara taksi untuk mengenali tanda-tanda stroke dan mengetahui kemana pasien itu harus dibawa, terang Menkes.

Menkes berharap kerjasama Yastroki dan Kemkes dalam mengembangkan petunjuk praktis untuk masyarakat berupa buku saku, atau dalam bentuk media lainnya seperti Ikatan Layanan Masyarakat tentang gejala stroke dan cara mengendalikan faktor resiko, cara mengatasi kegawat daruratannya, dan kemudian kemana akan membawa pasien stroke. (dpekes.go.id)

Diabetes Mellitus

Berikut beberapa petikan wawancara Direktur Jenderal PP dan PL Prof. dr Tjandra Yoga Aditama tentang Diabetes Militus :

1. Berapa banyak penderita diabetes mellitus di Indonesia ?

Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, Angka Prevalensi diabetes (DM) pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang tinggal di daerah perkotaan di Indonesia adalah 5,7 %. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi anak di seluruh Indonesia, dilaporkan bahwa jumlah penyandang diabetes pada anak dan remaja di bawah 20 tahun adalah 731 anak/remaja.

2. DM di Indonesia berada pada peringkat berapa di dunia?

World Health Organization (WHO) Melaporkan bahwa Indonesia berada di urutan keempat negara yang jumlah penyandang DM terbanyak dari Negara dengan populasi terbanyak di dunia setelah India, China, dan USA

3. Benarkah prediksi WHO yang mengatakan pada 2030 ada 21,3 juta penduduk Indonesia merupakan penderita diabetes?

Tanpa upaya pencegahan dan program pengendalian yang efektif, maka penderita diabetes akan terus meningkat di Indonesia.

4. Sejauh mana berbahaya penyakit diabetes itu?

Diabetes dapat mengakibatkan komplikasi yang bersifat akut maupun menahun (kronis). Komplikasi akut diabetes dapat mengakibatkan koma diabetikum dan kematian mendadak. Sementara komplikasi kronisnya memberikan beban biaya pengobatan yang mahal, dan menurunkan produktifitas bagi penderitanya. Komplikasi akut diabetes yaitu hiperglikemia (kadar gula darah naik cepat secara drastis) dan juga bisa hipoglikemi (kadar gula darah turun secara cepat). Kondisi ini yang mengakibatkan kematian lebih dini bagi penyandangdiabetes. Sementara komplikasi kronis dari diabetes dapat berupa :

1. Makroangiopati (kerusakan pembuluh darah besar) misalnya:
· Gangguan pada pembuluh darah jantung
· Gangguan pada pembuluh darah tepi yang dapat mengakibatkan luka pada telapak kaki yang sulit sembuh
· Gangguan pada pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan stroke
2. Mikroangiopati (kerusakan pembuluh darah kecil) misalnya :
· Retinopati diabetik yang dapat mengakibatkan kebutaan
· Nefropati diabetik (penyakit ginjal diabetes) yang dapat mengakibatkan kegagalan fungsi ginjal
3. Neuropati ( Kelainan saraf)

Gejala yang sering dirasakan kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, dan lebih terasa sakit di malam hari.

5. Bagaimana angka kematian di Indonesia yang disebabkan diabetes?

Data Riskesdas 2007 menunjukan DM sebagai penyebab kematian pada semua kelompok umur sebanyak 5,7 % dari seluruh kematian di Indonesia

6. Diabetes kini menyerang Anak dan Remaja. Bagaimana dasarnya dan bagaimana hal tersebut bisa terjadi?

Diabetes terdiri dari beberapa jenis yaitu DM tipe 1 yang terjadi karena kekurangan hormon insulin di dalam tubuh, DM tipe 2 karena hormon Insulin yang dihasilkan tidak bermanfaat untuk mengatur kadar gula dalam darah (fungsi kerja insulin tidak efektif), DM gestasional yang terjadi pada masa kehamilan dan DM lainnya yang diakibatkan karena pemakaian obat mapun disebabkan penyakit lainnya.

Diabetes yang umumnya terjadi pada anak dan remaja adalah DM tipe 1. Sejak dulu DM pada anak ini sebenarnya sudah ada, namun tidak terdeteksi dengan baik, sehingga kejadiannya seperti fenomena gunung es. Terjadinya DM tipe 1 pada anak dan remaja dapat disebabkankarena faktor genetik (keturunan), auto-imun (kelainan sistem imunitas), pola hidup tidak bersih dan sehat seperti diet yang tidak sehat. Kelainan sistim imunitas terjadi karena adanya peradangan pada sel beta (insulitis). Insulitis dapat disebabkan oleh bermacam-macam hal di antaranya virus, seperti rubella dan herpes. Kondisi ini menyebabkan timbulnya antibodi terhadap sel b yang disebut ICA (Islet Cell Antibody). Reaksi antigen (sel b) dengan antibodi (ICA) yang ditimbulkannya mengakibatkan kerusakan sel beta pada pankreas (kelenjar Ludah Perut) yang mempunyai fungsi memproduksi hormone insulin.

7. Bagaimana regulasi yang mengatur soal konsumsi minuman atau makanan yang mengandung kadar gula berlebihan atau dengan bahan pemanis tambahan seperti aspartaam, sakarin, siklamat dan sarbitol?

Anak-anak dan remaja merupakan merupakan kelompok usia yang konsumtif terhadap berbagai jajanan kuliner, bila tidak peduli maka dapat menyebabkan terjadinya diabetes melitus sejak usia dini sehingga negara berkewajiban melindungi generasi muda dari bahaya ancaman makanan yang tidak sehat dan dapat menimbulkan penyakit khususnya seperti DM, namun bukan hanya DM saja melainkan zat adiktif dan bahan makanan berbahaya lainnya. Sebenarnya untuk itu sudah ada regulasi kandungan gula pada makanan ringan/ snack di Indonesia, yang telah diatur melalui Permenkes No. 208/ Menkes/ PER/ IV/ 1985 tentang Pemanis buatan dan Permenkes No. 722/ Menkes/ PER/IX/ 1988 tentang bahan tambahan makanan, namun perlu ditinjau ulang dan direvisi mengingat hanya 4 (empat) jenis pemanis buatan yaitu aspartaam, sakarin, siklamat dan sarbitol yang diatur dalam produk pangan. Batasan asupan gula persaji/perporsi juga belum diatur pada Permenkes tersebut. Pada saat ini Kementerian Kesehatan sedang menyempurnakan peraturan yang sudah ada tersebut. Sejalan dengan hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan telah mengeluarkan Peraturan kepala BPOM RI Nomor HK.03.1.23.11.11.099909 tahun 2011 tentang Pengawasan klaim dalam label dan iklan pangan olahan. Setiap pangan olahan harus disertai label, yang menunjukkan jumlah kadar gula persaji/perporsi. Peraturan yang sedang disusun oleh Kemenkes akan disinkronkan dengan peraturan tersebut, yaitu memberikan batasan kandungan gula persajian makanan/minuman olahan yang aman untuk kesehatan, termasuk aman terhadap risiko diabetes.

8. Bagaimana bentuk tindakan preventif kepada masyarakat untuk mencegah meluasnya penyakit diabetes pada anak dan remaja?

Pemerintah telah berupaya melakukan :
Pemantapan hukum dan peraturan perundangan yang mendukung penerapan konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman, serta aktifitas fisik cukup teratur di semua tatanan termasuk sekolah. Penguatan kemitraan yang strategis dengan berbagai multisektor dalam penerapan pola hidup sehat di masyarakat. Penyebarluasan informasi melalui kampanye gaya hidup sehat ke seluruh masyarakat melalui berbagai media termasuk juga pendidikan kesehatan di sekolah dan advokasi kepada para pemangku kepentingan untuk berpartisipasi dalam peningkatan perilaku hidup sehat dan bersih. Peningkatan dan pengembangan sumber daya untuk implementasi kegiatan pengendalian diabetes melitus. Mencegah anak terhadap penyakit infeksi yang disebabkan virus seperti campak, rubella dan herpes dan juga mengobatinya secara tuntas jika anak menderita penyakit tersebut juga merupakan upaya mencegah diabetes pada anak

Sumber : Subdit Surveilans dan Respon KLB

Upaya Pencegahan Hepatitis A

Hepatitis A ditularkan melalui faecal-oral. Oleh karenanya, salah satu cara pencegahan adalah proses memasak harus dilakukan dengan baik. Ada 5 tips penting, khususnya bagi  pembuat atau penjual makanan agar makanan yang diproduksi aman dari virus Hepatitis A.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE Lima tips tersebut adalah pertama, menjaga kebersihan dengan cuci tangan sebelum masak dan setelah keluar toilet, cuci alat-alat masak dan alat makan, dapur harus bersih, tidak ada binatang, serangga dll.

Kedua, pisahkan bahan makanan matang dan mentah dengan menggunakan alat dapur dan alat makan yang berbeda serta simpan di tempat berbeda.

Ketiga, masak makanan hingga matang. Masak sampai matang, terutama daging, ayam, telur, seafood, rebus sup hingga 70 derajat Celcius. Untuk daging dan ayam, pastikan tidak masih berwarna pink serta panaskan makanan yang sudah matang dengan benar.

Keempat, simpan makanan di suhu aman. Jangan simpan makanan matang di suhu ruangan terlalu lama, masukan makanan ke dalam lemari es bila ingin disimpan, sebelum dihidangkan, panaskan sampai lebih dari 60 derajat celcius, serta jangan simpan terlalu lama di lemari es

Kelima, gunakan air yang bersih dan bahan makanan yang baik. Pilih bahan makanan yang segar, air yang bersih, proses memasak yang baik, cuci buah dan sayur dengan baik, serta tidak menggunakan bahan makanan yang sudah kadaluarsa.(Depkes.go.id)

TB di Indonesia

Pada 25 Juli 2011 malam hari Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kementerian Kesehatan RI membuka Pertemuan Nasional Evaluasi dan Perencanaan Program Tuberkulosis (TB) Nasional 2011, di Batam. Beliau menyampaikan beberapa hal pada para peserta dari seluruh tanah air, yaitu :
– Indonesia sudah mencapai sebagian besar target MDG TB
– Peringkat Indonesia di bidang TB juga sudah membaik
– Walau secara nasional sudah membaik tapi masih terjadi disparitas antar propinsi
– Program TB perlu melakukan 3 hal :
1. Inovasi, cari cara / pendekatan baru
2. Integrasi dengan program lain
3. Publikasi tentang program di Indonesia ke dunia.

Sementara itu, situasi TB di Indonesia  (Global Tuberculosis Control : WHO Report 2010) sbb :

  1. Insidens semua kasus TB adalah 430.000 orang = 189/100.000 penduduk (menurun dibandingkan tahun 1990 : 626.867 orang atau 343/ 100.000 penduduk, artinya di tahun 2010 turun 45% dari tahun 1990).
  2. Prevalens semua kasus TB adalah 660.000 orang = 285/100.000 penduduk (menurun dibandingkan 1990 : 809.592 orang = 443/100.000 penduduk, artinya di tahun 2010 turun 36 % dari tahun 1990).
  3. Jumlah kematian akibat TB adalah 61.000 orang = 27/100.000 penduduk,  (menurun dibandingkan tahun 1990 : 168.956 orang per tahun, atau 92/100.000, artinya di tahun 2010 turun 70% dari tahun 1990).

Artinya ada penurunan cukup bermakna dari angka2 TB dibanding tahun 1990, sehingga target MDG Indonesia untuk tuberkulosis nampaknya akan dapat tercapai.  (Sumber : Subdit Surveilans dan Respon KLB Ditjen P2PL)

STROKE PENYEBAB KEMATIAN TERTINGGI DI INDONESIA

Stroke atau serangan jantung menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia untuk kategori penyakit tidak menular (PTM). “Data kematian akibat PTM yang tadinya 41,7 persen pada tahun 1995 meningkat menjadi 59,5 persen pada 2007. Penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah stroke sebesar 15,4 persen,” kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih ketika membuka pertemuan regional Badan Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara yang membahas penanggulangan penyakit tidak menular yang digelar di Hotel Gran Melia, Jakarta, Selasa.

Menkes menambahkan angka prevalensi PTM di Indonesia cukup tinggi yang meliputi penyakit hipertensi, penyakit jantung, stroke, penyakit tulang dan otot (muskuloskeletal) serta kecelakaan lalu lintas.

Selain itu prevalensi faktor resiko PTM juga tinggi Seperti obesitas, makanan beresiko, kurang buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, merokok dan masalah kejiwaan.( http://www.infopenyakit.org/)